Oleh: Hendra | 27 Maret 2010

Pelangi Sehabis Hujan

Oleh: Novita Wulandari

Aku duduk sambil termenung di bawah pohon beringin, dengan rasa sakit hati yang sangat mendalam. Angina yang berhembus kencang terasa meraba-raba kulitku. Dan matahari yang senja hanya bisa tersenyum melihat diriku yang tak punya semangat hidup.

Pada awalnya dalam kehidupanku sangat membahagiakan, ketika aku mempunyai seorang suami yang bernama Andre dan akhinya aku mengandung anak dari pernikahanku dengan Andre.

Tetapi kebahagiaanku tidak berlangsung lama. Ternyata kata-kata cinta yang sering diucapkan Andre hanya di bibir saja. Baru 4 bulan menikah. Andre sudah berani memukul dan berbuat kasar padaku, bahkan yang paling membuat hatiku hancur, Andre berselingkuh dengan sahabatku sendiri.

Hari demi hari ku lalui dengan sabar, tapi apa yang ku terima hanyalah perakuan yang membuat ku merasa tidak sanggup untuk bertahan dengan rumah tanggaku ini. Penderitaanku bertambah ketika aku mendengar kabar bahwa ayahku meninggal dunia, tetapi mamah Andre melarang aku untuk melihat wajah ayahku untuk terakhir kalinya.

Di rumahku sendiri aku diperlakukan seperti pembantu dan disiksa oleh ibu mertuaku. Sedangkan Andre suamiku malah bersenang-senang dengan wanita lain. Wanita itu adalah agnes, dia adalah gadis yang ada dimasa lalu Andre. Mereka pernah menjalin hubungan asmara dan tanpa pernah ku sadari dan ku ketahui, mereka mempunyai anak hasil dari hubungan gelap.

Andre dan Agnes mencoba menyingkirkan aku, Andre tega menenggelamkan aku di pantai. Tapi Tuhan masih sayang padaku, Tuhan masih memberikan kesempatan untukku hidup. Tapi anak yang ada di kandunganku meninggal.

Tuhan itu baik kepada semua orang. Tuhan menolong aku dengan perantaraan seorang pria yang baik hati, yaitu wisnu. Mungkin aku telah dianggap mati oleh Andre dan keluarganya, bahkan keluargaku sendiri juga menganggap begitu. “Oh Tuhan, tolonglah aku, aku tidak sanggup lagi, ambil aku Tuhan, ambil aku.”

“Jangan, kamu tidak boleh berkata seperti itu, setiap masalah dalam diri kita pasti ada jalan keluar,” ujar Wisnu kepadaku.

Mungkin penderitaan dalam hidupku tak pernah usai, aku divonis oleh dokter menderita kanker rahim hingga akhirnya rahimku diangkat dan tak bisa lagi mempunyai seorang anak. Sebagai wanita aku merasa tak sempurna lagi, penderitaanku ini disebabkan oleh Andre dan Agnes yang sedang berbahagia di atas penderitaan yang sedang ku alami. Keluarga Andre pasti lagi berpesta karena menganggapku mati, tapi mereka akan membayar semua yang mereka lakukan kepadaku.

Kehidupan ini memang sangat kejam, aku akan membalas apa yang pernah mereka lakukan kepadaku, tertaw Andre dan Agnes yang harus bertanggung jawab. Aku terima mereka menyakiti, bahkan membuangku. Tapi yang membuat tersiksa, mereka berani-berani menyiksa keluargaku juga. Aku hanya bisa meneteskan air mata melihat perlakuan mereka, tapi aku bersembunyi untuk merencanakan balas dendam.

Pembalasanku dimulai dari menghancurkan Andre dan Agnes, yang ternyata telah menikah setelah membuang aku. “Hebat, hebat, tunggu saja pembalasanku.” Penampilanku kini berubah, aku bukan seorang gadis kampungan yang dapat dihina dan disiksa oleh mereka. Tapi aku kini adalah seorang gadis yang tidak takut untuk melawan, bahkan aku akan menghancurkan mereka.

Seperti yang pernah Agnes lakukan padaku, aku akan merebut kembali Andre tapi aku memakai nama Winda, adik wisnu yang telah meninggal. Andre pun mulai jatuh cinta dan terbujuk oleh rayuanku. Andre memang tidak bisa berubah, ternyata dia masih saja mata keranjang seperti dulu.

Tapi tindakkanku dilarang oleh Wisnu, yang diam-diam ternyata menaruh hati padaku. “Aku harap kamu hentikan tindakan kamu yang konyol itu, tindakkan yang kamu lakukan akan membuat diri kamu tidak bisa lepas dari dendam yang ada di masa lalu,” (Wisnu kesal kepadaku).

“Wisnu, Wisnu!!! Aku harap kamu tak perlu ikut campur urusanku, aku tau aku memang berhutang nyawa kepadamu.”

“Winda sadar, kamu jangan merasa bahwa kamu hanya sendirian. Aku ada selalu untukmu, aku sayang sama kamu, aku cinta Winda.” Wisnu pergi meninggalkan aku dengan wajah yang marah.

Aku tidak perdulikan Wisnu, aku tetap dengan pendirianku, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk datang ke rumah Andre sebagai kekasihnya.

Tapi apa yang dia lihat!? Ternyata dendamku yang semula menggebu-gebu, kini luluh bagai air yang mencair. Agnes yang dulu berbuat jahat kepadaku, kini hanya berjalan dibantu dengan tongkat untuk menunjukkan jalan. Agnes buta dan tidak bisa melihat lagi, aku tersentuh, aku tak mungkin menghancurkan dia.

Kini aku sadar, ternyata tidak ada guna untuk balas dendam, mungkin saatnya untukku memulai hidup yang baru. Tanpaku sadari Wisnu ada untukku dan aku juga tidak bisa membohongi perasaanku kepada Wisnu.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuya, Tuhan memberi kebahagiaan kepadaku. Seperti pelangi sehabis hujan, janji Tuhan itu nyata kepadaku setelah penderitaan demi penderitaan yang ku lalui kini kebahagiaan menanti diriku bersama dengan Wisnu, orang yang mencintaiku dan menerimaku apa adanya, tanpa mempermasalahkan yang pernah terjadi dimasa laluku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: