Oleh: Hendra | 27 Maret 2010

Tujuh Jam

Oleh: Nurjanah

Pukul 9.00
“Hallo. Bisa bicara dengan Sani?”
“Saya sendiri, ini siapa?”
“Aku desy. Kamu sekarang ada waktu kan san?” ucap Desy dengan pacarnya itu.
“Kenapa? Sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tugasku belum selesai.”
“Tolongin aku dong. Hari ini keluargaku semua pergi dan aku ditinggal di rumah dengan tiga anak kecil. Merek…… Joni, cepat turun dari situ….. mereka mengacau rumah I’n San. Kepalaku udah mau pecah ngurus mereka. Datang ya…….. dan kalau bisa bawa bantuan.”
“Aduh Des. Apa salahnya sih ngurus anak kecil,” jawab Sani sambil mengeluh.
“Mereka bukan anak kecil. Mereka monster,” bisik desy ketakutan.

Pukul 9.25
Ting tong!!!
Sani berdiri di depan pintu rumah Desy. Sudah berapa kali dia kesini. Setahu dia anak kecil di rumah ini cuma adiknya yang berumur tujuh tahun, Andi. Siapa lagi anak dua lainnya itu?.
Tak lama kemudian terdengar kunci pintu dibuka dan dengan bersamaan dibukanya pintu, terdengar teriakkan.
“Tembak!!!”
Semprotan air dari pistol-pistolan itu mengguyur muka Sani sampai dia gelagapan. Dengan melindungi wajahnya dengan tangan, dia merangsek maju tetapi tembakkan itu tidak terhenti. Sampai terdengar suara Desy.
“Andi, Joni dan Joana! Mainnya di halaman belakang saja.”
Sambil tertawa-tawa, ketiga anak itu melihat korbannya yang sudah setengah basah kuyup dan kemudian pergi.
“Nah, apa ku bilang mereka monster bukan?” Tanya Desy.
Siapa itu Joni dan Joana?”
“Oh, mereka sepupuku. Anak kembar berumur 6 tahun.”
Sani menghembuskan nafas panjang. Ini akan menjadi siang yang lama.

Pukul 11.32
Des berkata pada Sani, “awas mereka, aku mau bikin makan siang dulu.”
“Iya……..” wajah Sani terlihat memelas.
Jangan sampai mereka membakar rumah ini atau melakukan hal-hal yang lainnya.”
“Iya……tuan putri, hamba paham.”

Pukul 12.25
Ketika Sani asyik mengunyah daging ayam yang lezat buatan pacarnya itu, tiba-tiba Joana bertanya, “kak, dari manakah asalnya bayi?”
Sani nyaris tersedak mendengarnya. Saat dia melirik ke Desy pacarnya, ternyata respon Desy pun sama.
“Euh, kamu belum cukup umur untuk mengetahuinya,” elak Desy.
“Kami berdua bukan orang tempat untuk kalian bertanya soal dari manakah asalnya bayi itu. Kalian tanya saja dengan orang tua kalian.” Tambah Sani.
“Tapi Joana maunya sekarang Ka…….” Rajuk gadis itu. Joni dan Andi pun menampilkan mimik muka ingin tahu.
Sani memandang Desy sambil memberi gerakan tubuh mempersilahkan menjelaskan. Pokoknya jangan sampai ketiga anak itu menangis karena suara pesawat supersonik tetap kalah oleh suara tangisan mereka itu, gumam Sani dalam hati.
“Yah, apabila anak laki-laki dan perempuan yang sudah besar saling menyukai………..,” kata Desy ragu-ragu.
“Dan mereka bukan saudara,” potong Sani.
“Ya, betul. Mereka bukan saudara dan saling menyukai kemudian mereka akan punya bayi,” jawab Desy.
“Apakah Kak Sani menyukai Kak Desy?,” Tanya Andi.
Muka Sani dan Desy memerah mendengar pertanyaan itu.
“Ya, Kak Sani suka Kak Desy,” jawab Sani pelan, “tapi sebelum punya bayi. Perempuan dan laki-laki harus….harus…..eeeaaaa……..bersentuhan dulu.”
“Oh…..begitu ya….. lalu kenapa Kak Sani dan Kak Desy tidak saling bersentuhan?” Tanya Joni.
“Karena Kak Sani dan Kak Desy belum ingin punya anak,” jawab Sani dan Desy nyaris serentak. Wajah mereka semakin memerah.
“Oh…….begitu yah…….,” kata ketiga anak itu sambil mengangguk-ngangguk serentak.

Pukul 13.47
“Kak anterin ak ke kamar mandi dong,” pinta Joni kepada Sani.
“Kenapa?” Tanya Sani.
Joni dia. Desy menjelaskan “dia takut ke kamar mandi sendiri. Katanya di sana ada monster hijau berlendir yang akan memakannya.” Sudahlah biarkan aku saja yang mengantarnya.
“Etzz, jangan dulu. Jon, kalau Kakak bisa mengalahkan monster hijau kamu berani ke kamar mandi sendiri?” Tanya Sani.
Joni mengangguk. Sani menggandengnya ke kamar mandi. Desy mengajak anak lainnya ikut. Tidak setiap hari dia melihat pacarnya mengalahkan monster khayalan sepupunya itu.
Begitu rombongan kecil itu sampai di depan pintu kamar mandi, Sani berkata “sekarang Kakak masuk duluan, nanti kalau sudah selesai Kakak panggil.”
Pintu kamar mandi ditutup Sani. Hening sejenak, lalu terdengar suara Sani menggema di kamar mandi itu, “monster kemana kaku? ayo keluarlah. Jangan bersembunyi.”
Terdengar suara kecipak air dan bunyi hantaman ke pintu kamar mandi.
“Awas kamu, monster jelek!!!” suara Sani kembali menggema. “Jangan ganggu kamar mandi ini lagi.”
Lalu di kamar mandi itu, terdengar suara yang seperti menggambarkan pertarungan yang hebat di dalam situ. Pintu kamar mandi bergetar tiga kali. Lalu terdengar benda-benda berjatuhan dan teriakkan seperti ‘rasakan ini’ ‘terima pukulan ini’ ‘aduh’ terdengar berkali-kali. Ketiga anak yang diluar itu setengah ketakutan memandang pintu kamar mandi itu sambil memeluk Desy. Muka Desy merah, menahan tawa kelakuan pacarnya itu.
“Des, buka pintunya,” kata Sani.
Ketika Desy membuka pintu itu, Sani sedang duduk diatas tutup toilet. Sani memandang ke Joni dan kemudian menyuruh Joni memutar tombol penyiram toilet itu. Dengan ragu-ragu, Joni berjalan mendekati toilet itu.
“Cepatlah!!! Aku sudah tak kuat lagi,” kata Sani terengah-engah.
Ada tekad menyala-nyala di mata Joni dan dia kemudian memutar tombol toilet itu. Terdengar suara gemuruh dari dalam toilet duduk itu. Sani menatap Joni dengan bangga, “sekarang tak ada lagi monster yang bisa mengganggumu.”

Pukul 15.00
“Kamu tidak apa-apa aku tinggal sendirian?” Tanya Sani khawatir.
“Yakin. kamu masih ada tugas kan? Pulang saja. Mereka tidur siang, ketika mereka bangun orang tua mereka sudah datang.”
“Ehm….besok kamu mau nonton?”
“Boleh……..jemput yah??”
“Yakin diizinkan oleh orang tua kamu?” Tanya Sani.
“Harus dong!! Anggap upah udah menjaga anak-anak ini.”
Sani menggenggam tamgan Desy. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata kecil mengintip mereka.
“Aku pulang yah…..sampai besok.” Kata Sani sambil melepas ganggamannya.

Pukul 16.00
“Jadi bagaimana Des? Repot juga kan ngurus anak kecil?,” kata Bu Brata.
Dengan mengangguk, sembil memandang bangga ibunya. Karena ibunya berhasil sudah merawat dua anaknya selama 17 tahun. Sementara dia disuruh menjaga 7 jam saja sudah kelelahan sekali.
“Bu, tadi sebelum Andi tidur siang, Andi melihat satu berita baik. Kak Desy akan mempunyai bayi dengan Kak Sani.”
Desy nyaris mendapat serangan jantung mendengar kata-kata itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: